Buol, CumaNesia.com – Setahun sudah duet kepemimpinan Bupati Buol H. Risharyudi Triwibowo dan Wakil Bupati Moh. Nasir Dj. Daimaroto berjalan di Kabupaten Buol.
Waktu yang mungkin terasa singkat, namun cukup untuk mencatat berbagai dinamika, tantangan, hingga perubahan yang mulai dirasakan masyarakat.
Sejak dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Bowo–Nasir langsung dihadapkan pada ekspektasi besar publik.
Harapan tentang perubahan, perbaikan birokrasi, hingga percepatan pembangunan menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.
Di tahun pertama ini, kritik publik pun datang silih berganti. Namun bagi Bowo–Nasir, kritik bukanlah ancaman. Justru sebaliknya, itu menjadi cermin untuk berbenah.
Pemerintah daerah memandang setiap masukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap arah pembangunan Buol.
“Pembangunan bukan hanya tentang pujian dan capaian, tapi juga tentang kemampuan mendengar dan memperbaiki,” begitu prinsip yang terus digaungkan dalam berbagai kesempatan.
- Fondasi Dimulai dari Birokrasi
Langkah awal yang menjadi perhatian adalah pembenahan birokrasi.
Struktur organisasi perangkat daerah ditata ulang, disiplin ASN diperketat, dan evaluasi kinerja dilakukan lebih rutin.
Tujuannya jelas: pelayanan publik harus lebih cepat, lebih transparan, dan lebih berdampak.
Sistem kerja berbasis kinerja mulai diperkuat agar setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bagi Bowo–Nasir, birokrasi yang kuat adalah fondasi utama sebelum melangkah lebih jauh ke program pembangunan lainnya.
- Agropolitan Jadi Arah Pembangunan
Sebagai daerah yang bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, konsep “Agropolitan” bukan sekadar slogan dalam visi misi Agamis, Agropolitan, Maju dan Berkelanjutan.
Pemerintah daerah mendorong peningkatan produksi pertanian, memperbaiki tata distribusi pupuk, serta memperkuat kelompok tani dan nelayan.
Sinergi dengan pemerintah pusat dan provinsi juga terus dibangun untuk membuka akses pembiayaan serta memperluas pasar hasil pertanian Buol.
Langkah ini diarahkan agar ekonomi desa semakin kuat dan kesejahteraan petani meningkat secara bertahap.
- Infrastruktur dan Layanan Dasar
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur terus bergerak. Sejumlah ruas jalan strategis mulai mendapat perhatian, terutama akses menuju sentra produksi dan kawasan pemukiman.
Perbaikan fasilitas pendidikan dan kesehatan juga masuk dalam daftar prioritas.
Pemerintah daerah mulai memperkenalkan pelayanan berbasis digital untuk memangkas birokrasi yang berbelit dan mempercepat layanan masyarakat.
Meski belum sempurna, perubahan itu perlahan mulai terlihat.
- Kritik Jadi Bahan Evaluasi
Satu tahun berjalan, tentu belum semua harapan dapat terwujud. Tantangan fiskal, kondisi infrastruktur lama, hingga persoalan klasik birokrasi masih menjadi pekerjaan besar.
Namun Bowo–Nasir menegaskan bahwa proses evaluasi terus dilakukan.
Setiap kebijakan ditinjau kembali agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kritik publik tetap dianggap sebagai kontrol sosial yang sehat dalam sistem demokrasi.
- Melangkah ke Tahun Kedua
Kini, memasuki tahun kedua kepemimpinan, Bowo–Nasir berkomitmen memperkuat fondasi yang telah dibangun. Fokus tetap pada konsistensi program prioritas serta keberlanjutan pembangunan.
Satu tahun pertama menjadi fase penataan dan pembuktian awal. Tahun berikutnya diharapkan menjadi fase percepatan.
Bagi masyarakat Buol, harapan tentu masih besar. Namun setidaknya, dalam satu tahun ini, kepemimpinan Bowo–Nasir telah menunjukkan bahwa narasi perubahan tidak berhenti pada kata-kata, melainkan mulai diwujudkan dalam langkah nyata.***






