Poso  

Integrasi Keilmuan dan Sintuwu Maroso Perkuat Karakter Santri

Poso, CumaNesia.com – Pondok Pesantren Babul Khair Poso menggelar Workshop Integrasi Keilmuan bagi dewan guru sebagai langkah memperkuat kualitas pembelajaran yang memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan kearifan lokal Poso. Kegiatan ini sejalan dengan program Kementerian Agama dalam penguatan integrasi keilmuan di lingkungan pendidikan.
Workshop tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengimplementasikan Nawacita Pemerintah Republik Indonesia, khususnya dalam penguatan pendidikan karakter melalui pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan akhlak, spiritualitas, dan nilai sosial peserta didik.


Pimpinan Pondok Pesantren Babul Khair, Dr. Makmur, S.Pd.I., M.Pd., C.IQA-Ed, mengatakan bahwa penguatan integrasi keilmuan menjadi kebutuhan penting dalam menjawab tantangan pendidikan modern yang terus berkembang.
“Melalui workshop ini kami ingin membangun kesamaan persepsi seluruh dewan guru agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap mata pelajaran, sekaligus menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan santri,” kata Dr. Makmur.

Example 300x600


Menurutnya, mata pelajaran umum perlu diperkuat dengan ayat Al-Qur’an maupun hadis yang relevan, sementara mata pelajaran Pendidikan Agama Islam harus semakin kontekstual dengan mengaitkan ilmu pengetahuan, akhlak, dan realitas sosial masyarakat.


Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya lokal Poso, khususnya nilai luhur Sintuwu Maroso yang selama ini dikenal sebagai simbol persaudaraan, kebersamaan, toleransi, dan kehidupan damai di tengah masyarakat.


Workshop diikuti oleh dewan guru Pondok Pesantren Babul Khair dan MTs Muhammadiyah Poso dengan fokus pada peningkatan kompetensi dalam menyusun perangkat pembelajaran berbasis integrasi keilmuan, mulai dari tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, hingga evaluasi hasil belajar.


Dr. Makmur menegaskan, pihaknya ingin menjadikan integrasi antara ilmu, agama, dan budaya sebagai budaya pembelajaran sehari-hari. “Kami berharap santri tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan tahfizh Al-Qur’an, tetapi juga memiliki karakter kuat, berakhlak mulia, serta mampu menjaga nilai-nilai budaya dan persaudaraan yang menjadi jati diri masyarakat Poso,” pungkasnya.

(Ishaq)

Example 300x600