Poso, CumaNesia – Pagi baru saja menyibak kabut ketika aktivitas petani mulai bergerak di antara pohon-pohon kakao. Buah yang bergelantungan di batang menjadi penanda bahwa musim panen telah tiba. Bagi mereka, kakao bukan sekadar komoditas yang ditimbang lalu dijual. Dari hasil kebun itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, biaya pendidikan anak disiapkan, dan modal untuk kembali merawat tanaman dicari.
Di tengah rutinitas tersebut, CV Cipta Luckman Basry berupaya membangun hubungan yang lebih dekat dengan petani. Perusahaan tidak hanya melihat kakao sebagai hasil produksi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan kelompok tani yang menjadi bagian penting dalam rantai usaha tersebut.
Direktur CV Cipta Luckman Basry, Hasan Basri, mengatakan keberadaan petani merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan usaha perusahaan. Karena itu, hubungan yang dibangun tidak sebatas transaksi jual beli hasil perkebunan.
“Petani adalah bagian penting dari usaha kami. Kalau petani sejahtera dan kebunnya terus produktif, perusahaan juga bisa tumbuh bersama mereka,” kata Hasan Basri.
Bagi Hasan, membantu memenuhi kebutuhan kelompok tani merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya menjaga hubungan kemitraan agar tidak berhenti pada saat kakao dipanen. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok menjalankan aktivitasnya dan meringankan kebutuhan yang muncul dalam proses pengelolaan kebun.
“Kami ingin hubungan dengan petani bukan hanya ketika mereka datang membawa kakao. Ada kebutuhan kelompok tani yang juga perlu diperhatikan. Semampu kami, kami berusaha membantu,” ujarnya.
Kebutuhan itu muncul dalam berbagai bentuk. Petani harus menghadapi biaya perawatan tanaman, kondisi cuaca yang berubah, produktivitas kebun hingga kebutuhan operasional kelompok. Bagi sebagian petani, persoalan tersebut dapat menjadi beban ketika pendapatan belum sebanding dengan pengeluaran.
Karena itu, keberadaan kelompok tani menjadi penting. Di dalam kelompok, petani dapat saling berkoordinasi, membicarakan persoalan kebun serta mengelola kebutuhan bersama. Dukungan dari mitra usaha membuat ruang kerja sama tersebut memiliki fondasi yang lebih kuat.
Hasan menyadari bahwa meningkatkan kesejahteraan petani bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan hubungan yang konsisten, komunikasi terbuka dan kemitraan yang memberi manfaat bagi kedua pihak.
“Kami tidak ingin hanya mengambil hasil dari petani. Kami juga ingin memberikan manfaat. Prinsipnya, kalau mereka berkembang, kami juga ikut berkembang,” tutur Hasan.
Bagi petani, perhatian semacam itu memiliki arti lebih dari sekadar bantuan. Ada rasa bahwa kerja keras mereka di kebun mendapat penghargaan. Setiap dukungan yang diterima kelompok dapat membantu mereka melewati persoalan yang muncul sebelum panen berikutnya datang.
Pada akhirnya, kisah CV Cipta Luckman Basry bersama petani kakao adalah cerita tentang hubungan yang dibangun dari kebutuhan dan kepercayaan. Perusahaan membutuhkan hasil kebun, sementara petani membutuhkan pasar dan mitra yang dapat berjalan bersama.
Di balik buah kakao yang tampak sederhana, terdapat kehidupan banyak keluarga. Ada tangan-tangan yang bekerja sejak pagi, ada anak-anak yang menunggu biaya sekolah, serta ada harapan agar kebun tetap menghasilkan.
“Yang paling penting bagi kami, petani jangan merasa berjalan sendiri. Kami ingin menjadi bagian dari proses mereka untuk terus maju,” kata Hasan.
Dari kebun-kebun kakao itulah cerita tersebut terus berjalan. Bukan hanya tentang berapa banyak hasil panen yang terkumpul, tetapi tentang bagaimana sebuah kemitraan dapat ikut menjaga penghidupan petani dan membuat harapan mereka tetap tumbuh, musim demi musim.
(Ishaq)






